
Krisis Air Bersih Melanda Sejumlah Daerah
Krisis Air Bersih Kian Memprihatinkan Di Berbagai Wilayah Indonesia, Terutama Sejak Musim Kemarau Panjang Yang Melanda Sejak Awal Tahun Ini. Tujuannya bukan ke pasar atau sawah, melainkan ke tepi sungai keruh yang menjadi satu-satunya sumber air mereka sejak sumur-sumur mengering. Fenomena ini tidak terjadi di satu tempat saja. Dari pelosok Kalimantan hingga sudut-sudut kota besar seperti Bekasi dan Tangerang, krisis air bersih perlahan berubah menjadi ancaman nyata yang menghantui masyarakat. Kemarau panjang yang tak kunjung berakhir memperparah keadaan. Air bersih, yang selama ini dianggap hal biasa, kini menjadi barang langka yang diperebutkan.
Masalah kekurangan air bersih bukanlah isu baru di Indonesia, namun tahun ini kondisinya kian memburuk. Data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa hingga awal Juli 2025, setidaknya 73 kabupaten/kota mengalami kekeringan ekstrem yang mengakibatkan terputusnya akses air bersih bagi ratusan ribu warga. Bukan hanya kebutuhan minum dan memasak yang terganggu, tetapi juga sanitasi dan kebersihan dasar masyarakat.
Penyebab Utama Krisis Air Bersih. Beberapa faktor utama menjadi penyebab kelangkaan air bersih yang terjadi saat ini. Yang paling mencolok tentu saja musim kemarau panjang akibat perubahan iklim global. BMKG memprediksi bahwa tahun 2025 akan menjadi salah satu tahun terkering dalam satu dekade terakhir, dengan curah hujan yang di bawah rata-rata di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu, kerusakan lingkungan turut memperparah situasi. Deforestasi masif, alih fungsi lahan, serta pembangunan infrastruktur tanpa kajian lingkungan yang matang menyebabkan daya serap air tanah menurun drastis. Sungai-sungai yang dahulu jernih dan penuh debit air kini berubah menjadi aliran kotor dengan debit minim.
Sementara itu, pengelolaan air bersih yang tidak merata membuat banyak daerah kesulitan membangun sistem penyediaan air yang andal. Di beberapa desa, pembangunan pipa air bersih bahkan belum pernah dilakukan sejak Indonesia merdeka.
Potret Daerah Terdampak: Dari Desa Hingga Perkotaan
Potret Daerah Terdampak: Dari Desa Hingga Perkotaan. Di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, warga harus membeli air bersih dari tangki seharga Rp150.000 per 5.000 liter. Dalam sebulan, mereka bisa menghabiskan lebih dari Rp500.000 hanya untuk kebutuhan air bersih, jumlah yang sangat besar untuk keluarga dengan penghasilan pas-pasan. Ironisnya, mereka hidup di daerah yang tidak jauh dari pusat pemerintahan provinsi.
Situasi serupa juga terjadi di kawasan Tambora, Jakarta Barat, di mana air PDAM tidak lagi mengalir selama lebih dari dua minggu. Warga terpaksa menyedot air dari sumur bor yang kualitasnya diragukan, bahkan ada yang mencuci baju dan mandi di saluran irigasi.
Kondisi paling memprihatinkan datang dari Lombok Timur. Di sana, sejumlah warga dilaporkan menggunakan air genangan sawah yang tercampur lumpur untuk kebutuhan harian. Anak-anak mengalami gatal-gatal dan diare akibat penggunaan air yang tidak layak konsumsi.
Dampak terhadap Kesehatan dan Kehidupan Sehari-hari. Air bersih sangat berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat. Di daerah yang terdampak krisis air, kasus diare dan infeksi kulit meningkat drastis. Puskesmas melaporkan lonjakan pasien yang mengalami keluhan akibat penggunaan air kotor, terutama pada anak-anak dan lansia yang sistem kekebalannya lebih rentan.
Selain itu, keterbatasan air juga mengganggu kegiatan belajar anak-anak, karena waktu mereka habis untuk mencari air bersama orang tua. Produktivitas ekonomi warga juga menurun karena sebagian besar waktu dan tenaga tersita hanya untuk mendapatkan air.
Lebih jauh, situasi ini memperdalam ketimpangan sosial. Masyarakat miskin yang tak mampu membeli air tangki terpaksa menggunakan air sungai atau genangan, sementara mereka yang memiliki uang masih bisa mengakses air kemasan atau menyewa jasa pengangkut air.
Tanggapan Pemerintah Dan Langkah Penanganan
Tanggapan Pemerintah Dan Langkah Penanganan. Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR dan BNPB telah menyalurkan bantuan berupa mobil tangki air bersih, pembuatan sumur bor darurat, serta pemberian tandon air di sejumlah titik rawan. Namun bantuan ini masih jauh dari kata cukup. Banyak daerah belum terjangkau karena terbatasnya anggaran dan akses yang sulit dijangkau kendaraan.
Presiden juga sempat menyampaikan bahwa masalah air bersih harus menjadi prioritas pembangunan infrastruktur dasar, terutama di kawasan luar Jawa. Pemerintah daerah diminta untuk proaktif dalam mendata titik-titik rawan dan mengalokasikan anggaran tanggap darurat yang lebih besar.
Sayangnya, koordinasi antara pusat dan daerah kerap kali tersendat oleh masalah birokrasi, yang membuat distribusi bantuan menjadi lambat.
Peran Komunitas dan Inisiatif Swadaya. Di tengah keterbatasan pemerintah, sejumlah komunitas lokal, LSM, dan organisasi keagamaan turut turun tangan membantu masyarakat. Misalnya, di Wonogiri, kelompok pemuda desa membuat sistem filtrasi sederhana dari bahan alami seperti pasir, arang, dan ijuk untuk menyaring air sumur dangkal. Hasilnya memang belum sempurna, tetapi cukup membantu warga memiliki akses air yang lebih layak.
Di daerah lain, program “Sedekah Air” oleh lembaga filantropi Islam mengumpulkan donasi untuk membiayai pengangkutan air bersih ke daerah terpencil.
Inisiatif-inisiatif ini membuktikan bahwa solidaritas sosial masih kuat di tengah krisis. Namun, tentu saja, solusi jangka panjang tetap harus datang dari perencanaan sistemik oleh negara.
Prediksi BMKG dan Ancaman Kemarau Ekstrem. BMKG memperkirakan bahwa musim kemarau 2025 akan berlangsung hingga akhir September, dengan beberapa wilayah mengalami kekeringan lebih lama. Hal ini membuat masyarakat diimbau untuk hemat air, memanfaatkan air hujan jika memungkinkan, dan menghindari pembakaran lahan yang bisa memperburuk krisis.
Kemarau ekstrem ini diyakini berkaitan dengan siklus El Niño yang terjadi lebih panjang dari biasanya. Pemerintah diminta waspada dan mempersiapkan rencana mitigasi untuk menghadapi potensi bencana kekeringan nasional yang lebih luas.
Solusi Jangka Panjang: Infrastruktur Dan Edukasi
Solusi Jangka Panjang: Infrastruktur Dan Edukasi. Untuk menghindari krisis serupa terulang setiap tahun, diperlukan solusi jangka panjang seperti:
-
Pembangunan embung dan penampungan air hujan
-
Revitalisasi sungai dan daerah aliran sungai (DAS)
-
Pengadaan infrastruktur PDAM yang menjangkau pelosok
-
Kampanye edukasi hemat air di sekolah dan masyarakat
Penting pula agar masyarakat diedukasi untuk menjaga lingkungan, seperti menanam pohon, membuat biopori, dan tidak membuang sampah ke sungai, agar daya serap air tanah meningkat kembali.
Air adalah sumber kehidupan. Ketika akses terhadap air bersih terganggu, maka seluruh aspek kehidupan masyarakat pun ikut terancam. Krisis air bersih yang kini terjadi di berbagai daerah harus menjadi peringatan keras bagi kita semua, bahwa pengelolaan sumber daya alam tak bisa lagi ditunda. Pemerintah, masyarakat, dan semua pihak harus bahu membahu mewujudkan sistem air bersih yang adil, merata, dan berkelanjutan.
Dalam konstitusi Indonesia, hak atas air sebenarnya telah dijamin. Namun, implementasinya di lapangan masih jauh dari ideal. Banyak masyarakat, terutama di wilayah terpencil dan tertinggal, harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan air layak konsumsi. Ketimpangan ini menjadi cermin bahwa masih ada pekerjaan besar yang belum selesai di sektor pelayanan dasar.
Selain itu, penting untuk diingat bahwa air tidak hanya berperan dalam urusan rumah tangga. Ia adalah fondasi bagi ketahanan pangan, energi, kesehatan, dan pendidikan. Tanpa akses air bersih yang stabil, petani gagal panen, anak-anak tak bisa belajar dengan layak, dan fasilitas kesehatan tidak mampu menjalankan fungsi dasarnya.
Oleh karena itu, respons terhadap krisis air bersih harus dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar tanggap darurat, tetapi melalui kebijakan jangka panjang yang fokus pada keberlanjutan. Kesadaran masyarakat pun harus dibangun sejak dini bahwa menjaga sumber air adalah tanggung jawab bersama.
Kini saatnya kita menyadari bahwa setiap tetes air adalah harapan. Harapan bagi masa depan yang lebih sehat, adil, dan bebas dari ancaman Krisis Air.