Catatan Simon Tahamata: Mental Garuda Muda Harus Gahar!

Catatan Simon Tahamata: Mental Garuda Muda Harus Gahar!

Catatan Simon Tahamata: Mental Garuda Muda Harus Gahar Dengan Berbagai Penilaiannya Yang Juga Jadi Masukan. Pernyataan tegas datang dari sosok yang tak asing di dunia sepak bola nasional. Simon Tahamata menyoroti aspek yang menurutnya paling krusial dalam perkembangan pemain muda Indonesia, yakni mental bertanding. Dalam beberapa kesempatan, Simon Tahamata menegaskan bahwa Garuda Muda tidak cukup hanya mengandalkan teknik dan fisik. Akan tetapi juga harus memiliki karakter kuat dan mental “gahar” saat berada di lapangan. Isu mentalitas ini menjadi perbincangan hangat karena menyentuh akar persoalan prestasi sepak bola Indonesia.

Di tengah meningkatnya kualitas pembinaan usia muda, ekspektasi publik juga semakin tinggi. Transisi dari tim usia muda ke level senior seringkali menjadi batu sandungan, dan menurut Simon Tahamata. Maka penyebab utamanya adalah kesiapan mental yang belum benar-benar matang. Catatan yang ia sampaikan bukan kritik kosong. Sosoknya berbicara berdasarkan pengalaman panjangnya, baik sebagai mantan pemain maupun pembina talenta muda. Berikut tiga fakta terkini dari pernyataannya yang kini menjadi sorotan pencinta sepak bola Tanah Air.

Mental Bertanding Jadi Pondasi Utama Garuda Muda

Fakta pertama yang di tekankannya adalah pentingnya Mental Bertanding Jadi Pondasi Utama Garuda Muda. Ia menilai banyak pemain muda Indonesia sebenarnya memiliki teknik yang mumpuni. Namun, ketika menghadapi tekanan pertandingan besar, performa mereka kerap menurun drastis. Menurutnya, mental “gahar” bukan berarti bermain kasar atau emosional. Justru yang ia maksud adalah keberanian mengambil keputusan, tidak takut duel. Serta tetap tenang dalam situasi genting. Transisi dari latihan ke pertandingan resmi sering kali mengungkap perbedaan besar antara pemain yang kuat secara mental dan yang mudah goyah. Ia juga menyoroti bahwa mentalitas tidak bisa di  bentuk secara instan. Prosesnya harus dimulai sejak usia dini melalui pertandingan kompetitif yang konsisten. Tanpa pembiasaan menghadapi tekanan, pemain akan kesulitan berkembang saat level kompetisi meningkat.

Garuda Muda Perlu Di Biasakan Dengan Tekanan Tinggi

Fakta kedua berkaitan dengan Garuda Muda Perlu Di Biasakan Dengan Tekanan Tinggi. Sosoknya menilai Garuda Muda harus lebih sering di hadapkan pada pertandingan berintensitas tinggi. Baik di level regional maupun internasional. Ia menekankan bahwa lawan-lawan dari negara lain sudah terbiasa bermain dengan tekanan besar sejak usia muda. Hal ini membuat mereka lebih siap saat tampil di turnamen penting. Transisi mental inilah yang menurutnya masih perlu di kejar oleh pemain muda Indonesia. Selain itu, ia juga menyinggung peran pelatih dan ofisial tim. Menurutnya, tekanan tidak boleh dihindari, tetapi harus di kelola dengan baik. Pelatih harus mampu menanamkan kepercayaan diri. Namun bukan justru menambah beban psikologis kepada pemain muda yang masih dalam proses pembentukan karakter. Dengan pembiasaan yang tepat, ia yakin Garuda Muda akan lebih siap menghadapi ekspektasi publik dan target prestasi yang tinggi.

Konsistensi Pembinaan Mental Jadi Kunci Jangka Panjang

Fakta ketiga yang tak kalah penting adalah soal Konsistensi Pembinaan Mental Jadi Kunci Jangka Panjang. Sosoknya menegaskan bahwa mental gahar tidak bisa muncul jika sistem pembinaan berubah-ubah. Ia menilai Indonesia membutuhkan benang merah yang jelas dari level usia muda hingga senior. Transisi pemain dari kelompok umur ke tim nasional senior sering kali terputus karena perbedaan pendekatan. Dan sosoknya berharap ada kesinambungan filosofi, terutama dalam membangun karakter pemain. Dengan begitu, mental juara bisa tumbuh secara alami seiring waktu. Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan di usia muda bukan akhir segalanya.

Justru dari kegagalan itulah mental kuat bisa di bentuk. Namun asalkan pemain mendapatkan pendampingan yang tepat. Sosoknya menilai kesabaran menjadi kunci, baik bagi pemain, pelatih, maupun publik. Pada akhirnya, catatannya menjadi refleksi penting bagi sepak bola Indonesia. Garuda Muda tidak kekurangan talenta. Akan tetapi masih membutuhkan penguatan mental agar mampu bersaing di level tertinggi. Jika aspek ini di garap serius dan konsisten, bukan tidak mungkin Indonesia akan memiliki generasi pemain yang tidak hanya terampil. Akan tetapi juga bermental baja menurut catatannya Simon Tahamata.