
Budaya Vs Algoritma: Siapa Yang Sebenarnya Menyetir Siapa?
Budaya Vs Algoritma: Siapa Yang Sebenarnya Menyetir Siapa Terlebih Yang Kini Perjumpaan Antarbudaya Berdasarkan Telapak Tangan. Ada waktu saat menelaah budaya lain membutuhkan perjalanan panjang, kesabaran. Dan juga proses belajar yang tidak instan. Karena orang membaca buku tebal, menonton film dokumenter, atau berdialog langsung dengan penuh kehati-hatian. Tentunya agar tidak keliru menafsirkan makna. Kini, semua itu berubah drastis. Perjumpaan antarbudaya terjadi dalam ruang selebar telapak tangan. Kemudian lewat layar ponsel yang tak pernah benar-benar tidur. Maka muncul lah istilah Budaya Vs Algoritma. Satu komentar di TikTok, satu utas di Twitter, atau satu emoji di WhatsApp bisa melintasi benua dalam hitungan detik. Sayangnya, kecepatan ini sering kali berjalan seiring dengan meningkatnya salah paham. Di sinilah muncul pertanyaan besar: apakah budaya yang membentuk Budaya Vs Algoritma.
Interaksi Antarbudaya Kini Serba Instan
Media sosial telah memangkas jarak geografis dan budaya secara ekstrem. Seseorang di Jakarta bisa berdebat soal etika dengan pengguna dari Eropa atau Amerika hanya dalam satu kolom komentar. Namun, interaksi yang instan ini kerap kehilangan konteks. Bahasa tubuh, intonasi, dan latar budaya yang biasanya membantu pemahaman tidak ikut hadir. Emoji yang di maksudkan sebagai candaan bisa di anggap sarkastik. Dan juga kalimat singkat tanpa nada suara dapat di baca sebagai agresi. Inilah fakta pertama yang tak terhindarkan: ruang digital mempercepat perjumpaan budaya. Akan tetapi sekaligus memperbesar potensi salah tafsir. Budaya yang dulu di pelajari secara mendalam. Namun kini sering di simpulkan dari potongan konten berdurasi belasan detik.
Algoritma Menentukan Apa Yang Kita Lihat
Fakta menarik berikutnya adalah peran algoritma dalam membentuk persepsi budaya. Platform media sosial tidak bekerja secara netral. Dan algoritma memilih konten berdasarkan interaksi, emosi, dan potensi viral. Akibatnya, kita lebih sering di suguhi konten yang memancing reaksi kuat. Terlebihnya seperti marah, tertawa, atau tersinggung. Dan ketimbang konten yang memberi pemahaman utuh. Dalam konteks budaya, hal ini berbahaya. Representasi budaya tertentu bisa tereduksi menjadi stereotip. Karena konten yang ekstrem lebih mudah menyebar. Budaya lain di pahami bukan dari keragaman aslinya, melainkan dari potongan yang di anggap “menarik” oleh algoritma. Tanpa di sadari, algoritma ikut mengarahkan cara kita menilai. Bahkan menghakimi, budaya lain.
Budaya Digital Membentuk Pola Komunikasi Baru
Tak bisa di pungkiri, lahirnya budaya digital juga menciptakan norma baru. Cara orang bercanda, mengkritik, hingga mengekspresikan empati kini sangat di pengaruhi platform yang di gunakan. Candaan sarkastik yang lazim di Twitter. Misalnya, bisa terasa kasar jika di bawa ke ruang budaya lain. Fakta ini menunjukkan bahwa budaya bukan hanya di wariskan. Akan tetapi juga terus di bentuk ulang oleh teknologi. Generasi muda tumbuh dengan bahasa meme, singkatan, dan referensi global yang tidak selalu di pahami lintas generasi maupun lintas budaya. Di satu sisi, ini memperkaya ekspresi. Di sisi lain, jurang pemahaman semakin mudah terbuka jika tidak di sertai kesadaran budaya.
Siapa Mengendalikan Siapa?
Pertanyaan kunci akhirnya mengerucut: siapa yang sebenarnya menyetir siapa? Budaya atau algoritma? Faktanya, keduanya saling memengaruhi. Budaya manusia membentuk pola interaksi yang kemudian di pelajari algoritma. Namun setelah itu, algoritma memantulkan kembali pola tersebut dalam skala besar. Terlebih yang seringkali dengan distorsi. Ketika algoritma lebih mengutamakan engagement ketimbang empati. Maka konflik budaya menjadi komoditas. Salah paham menjadi viral. Diskusi berubah menjadi debat panas. Dalam jangka panjang, ini bisa membentuk cara pandang kolektif yang dangkal terhadap perbedaan.
Di tengah realitas ini, kesadaran menjadi kunci. Memahami bahwa tidak semua yang muncul di linimasa merepresentasikan budaya secara utuh adalah langkah awal. Begitu pula menyadari bahwa satu kalimat yang kita kirim bisa di baca dengan latar budaya yang sama sekali berbeda. Keduanya kini hidup berdampingan, saling memengaruhi, dan saling menguji batas. Kita mungkin tidak bisa menghentikan laju teknologi. Akan tetapi kita masih punya kendali atas cara meresponsnya. Di era ketika makna bisa melayang tanpa konteks. Kemudian kehati-hatian dan empati justru menjadi nilai budaya paling relevan.
Jadi itu dia beberapa fakta mengenai siapa yang mengendalikan siapa akan hubungannya dengan sosial media dan muncul lah istilah Budaya Vs Algoritma.