
Batavia Yang Terlupakan: Reruntuhan Sejarah Kini Jadi Rimba Liar
Batavia Yang Terlupakan: Reruntuhan Sejarah Kini Jadi Rimba Liar Karena Seharusnya Menjadi Cagar Budaya Yang Di Kelola. Di balik gemerlap wisata Kota Tua Jakarta. Maka tersimpan kisah pilu tentang cagar budaya yang terlupakan. Dan bangunan bersejarah peninggalan Batavia Yang Terlupakan. Karena seharusnya tempat ini menjadi saksi perjalanan panjang ibu kota. Namun kini justru berada dalam kondisi memprihatinkan. Alih-alih terawat, kawasan tersebut berubah menjadi reruntuhan tak terurus, di penuhi semak liar. Dan kehilangan martabatnya sebagai warisan sejarah. Minimnya pengelolaan dan ketiadaan naungan institusi membuat bangunan cagar budaya ini perlahan rusak di makan waktu. Berikut fakta-fakta memilukan yang mencerminkan betapa rapuhnya nasib peninggalan sejarah yaitu Batavia Yang Terlupakan.
Bangunan Cagar Budaya Berubah Jadi Rimba Tak Terurus
Fakta paling mencolok adalah kondisi fisik bangunan yang nyaris tak menyerupai situs bersejarah. Dinding retak, atap runtuh, serta halaman yang di tumbuhi ilalang dan pepohonan liar membuat kawasan ini tampak. Terlebihnya seperti bangunan kosong yang di tinggalkan puluhan tahun. Di beberapa sudut, akar pohon menembus lantai dan dinding bangunan. Kondisi ini bukan hanya merusak struktur asli. Akan tetapi juga menghilangkan nilai estetika dan sejarahnya. Padahal, lokasi ini berada di kawasan Kota Tua Jakarta yang di kenal sebagai pusat sejarah kolonial.
Sempat Di Jadikan Toilet Umum Dan Tempat Buang Sampah
Fakta memilukan lainnya adalah fungsi bangunan yang menyimpang jauh dari nilai sejarahnya. Karena tidak di jaga dan tidak di fungsikan secara resmi. Maka area ini sempat di jadikan toilet umum oleh orang-orang yang melintas. Bau menyengat dan sampah berserakan menjadi pemandangan sehari-hari. Beberapa bagian bangunan di penuhi bekas aktivitas manusia. Tentu yang sama sekali tidak menghormati nilai cagar budaya. Situasi ini mencerminkan lemahnya pengawasan. Serta minimnya edukasi publik tentang pentingnya menjaga situs bersejarah.
Ruang Kosong Berubah Jadi Lapak Jualan Liar
Selain di jadikan toilet, area di sekitar bangunan juga sempat di manfaatkan sebagai tempat berjualan secara liar. Pedagang memanfaatkan ruang kosong untuk menggelar lapak tanpa izin. Kemudian juga menutup akses masuk, bahkan menempelkan spanduk pada dinding bangunan tua. Fenomena ini terjadi karena tidak adanya pengelolaan resmi dari instansi terkait. Ketika negara absen, ruang sejarah pun berubah menjadi ruang ekonomi informal. Akibatnya, cagar budaya kehilangan identitasnya. Dan semakin tergerus oleh kepentingan jangka pendek.
Terbengkalai Karena Tak Jelas Siapa Yang Bertanggung Jawab
Salah satu akar masalah utama dari kondisi ini adalah ketidakjelasan pengelolaan. Hingga kini, bangunan cagar budaya tersebut disebut tidak memiliki kantor pengelola yang aktif. Kemudian yang menaungi perawatan dan pengamanan lokasi. Akibatnya, tidak ada perawatan rutin, tidak ada penjagaan, dan tidak ada rencana revitalisasi yang jelas. Padahal, secara lokasi, bangunan ini sangat strategis dan berpotensi menjadi ruang edukasi sejarah. Serta museum kecil, atau pusat kegiatan budaya. Ketika tanggung jawab saling di lempar. Maka yang paling di rugikan adalah warisan sejarah itu sendiri.
Kisah cagar budaya Batavia yang terlupakan ini menjadi cermin betapa rapuhnya nasib warisan sejarah di tengah hiruk pikuk kota besar. Bangunan yang seharusnya di jaga dan di rawat justru di biarkan rusak. Namun kini yang berubah fungsi, dan kehilangan maknanya. Fakta bahwa situs bersejarah ini pernah menjadi toilet umum dan lapak jualan menunjukkan kegagalan kolektif dalam melindungi identitas kota. Tanpa langkah nyata dari pemerintah dan kesadaran publik. Hal ini bukan tidak mungkin reruntuhannya ini akan benar-benar hilang, terkubur oleh waktu dan kelalaian. Kota Tua Jakarta pun terancam kehilangan potongan penting dari sejarahnya sendiri.
Jadi itu dia beberapa fakta memilukan dari reruntuhan sejarah yang kini jadi rimba liar terkait Batavia Yang Terlupakan.