
Paris Saint Germain Berhasil Juara Liga Champions Pertama Kali
Paris Saint Germain (PSG) Catat Sejarah Baru Dengan Raih Gelar UCL Pertama Mereka Setelah Mengalahkan Inter Milan 5-0 Di Final. Yang berlangsung di Allianz Arena, Munich, pada Sabtu malam waktu setempat. Kemenangan ini juga menjadi margin kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champions sejak kompetisi ini di mulai pada 1956.
Pertandingan di mulai dengan dominasi PSG sejak menit awal. Ousmane Dembélé membuka skor pada menit ke-12. Delapan menit kemudian, Desire Doué menggandakan keunggulan PSG, kemudian menjadikan skor 2-0 hingga babak pertama berakhir.
Di babak kedua, PSG terus menekan. Doué mencetak gol keduanya pada menit ke-63, di ikuti oleh gol Kvicha Kvaratskhelia pada menit ke-73. Sanny Mayulu menutup pesta gol PSG dengan mencetak gol kelima pada menit ke-86.
Kemenangan ini tidak hanya mengakhiri penantian panjang Paris Saint Germain untuk meraih trofi Liga Champions, tetapi juga melengkapi treble mereka musim ini setelah sebelumnya menjuarai Ligue 1 dan Coupe de France.
Pelatih PSG, Luis Enrique, mempersembahkan kemenangan ini untuk mendiang putrinya, Xana, yang meninggal karena kanker pada 2019. Ia mengenakan kaos khusus untuk mengenangnya setelah pertandingan. Kemudian para suporter juga memberikan sebuah koreografi melalui tifo mereka yang bergambar Luis Enrique bersama putrinya.
Namun, perayaan di Paris berubah menjadi kerusuhan, dengan 294 orang di tangkap oleh polisi akibat tindakan anarkis yang terjadi setelah pertandingan.
Kemenangan ini menandai era baru bagi Paris Saint Germain, yang berhasil meraih sukses besar dengan skuad yang di penuhi pemain muda berbakat. Dengan pencapaian ini, PSG menunjukkan bahwa mereka siap menjadi kekuatan dominan di sepak bola Eropa.
Pertandingan Di Mulai Dengan Dominasi PSG Sejak Menit Awal
Paris Saint-Germain (PSG) berhasil menjuarai liga champions usal mengalahkan Inter milan dengan skor telak 5-0 di final yang berlangsung di Allianz Arena, Munich, pada Sabtu malam waktu setempat. Kemenangan ini juga menjadi margin kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champions sejak kompetisi ini di mulai pada 1956 .
Pertandingan Di Mulai Dengan Dominasi PSG Sejak Menit Awal. Achraf Hakimi membuka skor pada menit ke-12. Delapan menit kemudian, Desire Doué menggandakan keunggulan PSG, menjadikan skor 2-0 hingga babak pertama berakhir.
Di babak kedua, PSG terus menekan. Doué mencetak gol keduanya pada menit ke-63, diikuti oleh gol Khvicha Kvaratskhelia pada menit ke-73. Senny Mayulu menutup pesta gol PSG dengan mencetak gol kelima pada menit ke-86.
Kemenangan ini tidak hanya mengakhiri penantian panjang PSG untuk meraih trofi Liga Champions. Tetapi juga melengkapi treble mereka musim ini setelah sebelumnya menjuarai Ligue 1 dan Coupe de France .
Pelatih PSG, Luis Enrique, mempersembahkan kemenangan ini untuk mendiang putrinya, Xana, yang meninggal karena kanker pada 2019. Ia mengenakan kaos khusus untuk mengenangnya setelah pertandingan.
Namun, perayaan di Paris berubah menjadi kerusuhan, dengan 294 orang di tangkap oleh polisi akibat tindakan anarkis yang terjadi setelah pertandingan .
Kemenangan ini menandai era baru bagi PSG, yang berhasil meraih sukses besar dengan skuad yang dipenuhi pemain muda berbakat. Dengan pencapaian ini, PSG menunjukkan bahwa mereka siap menjadi kekuatan dominan di sepak bola Eropa.
Paris Saint-Germain (PSG) Menampilkan Performa Luar Biasa
Paris Saint-Germain (PSG) Menampilkan Performa Luar Biasa dalam final Liga Champions 2025, mengalahkan Inter Milan 5-0 di Allianz Arena, Munich. Kemenangan ini merupakan hasil dari strategi brilian pelatih Luis Enrique, yang mengandalkan pressing tinggi, pergerakan tanpa bola yang dinamis, dan fleksibilitas taktis.
PSG memulai pertandingan dengan intensitas tinggi, menekan Inter sejak awal. Gol pertama tercipta pada menit ke-12 melalui Achraf Hakimi, hasil dari kombinasi cepat antara Vitinha dan Désiré Doué. Delapan menit kemudian, Doué mencetak gol kedua setelah menerima umpan dari Ousmane Dembélé. PSG terus mendominasi, dengan Doué mencetak gol keduanya pada menit ke-63, diikuti oleh gol Khvicha Kvaratskhelia pada menit ke-73 dan Senny Mayulu pada menit ke-86.
Strategi Enrique menekankan pada permainan kolektif dan fleksibilitas posisi. Pemain seperti Vitinha berperan sebagai pengatur tempo, sementara Dembélé dan Kvaratskhelia memberikan lebar serangan dan kecepatan. Doué, yang baru berusia 19 tahun, menunjukkan kedewasaan dalam permainan dan menjadi Man of the Match dengan dua gol dan satu assist.
Pertahanan PSG juga solid, dengan Willian Pacho dan rekan-rekannya mampu meredam serangan Inter. Kiper Gianluigi Donnarumma hanya menghadapi dua tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan.
Kemenangan ini tidak hanya mengakhiri penantian panjang PSG untuk meraih trofi Liga Champions, tetapi juga menunjukkan keberhasilan pendekatan Enrique yang mengandalkan pemain muda dan strategi yang matang. Dengan rata-rata usia skuad 24 tahun, PSG menunjukkan bahwa mereka siap mendominasi sepak bola Eropa di masa depan.
Secara keseluruhan, gaya bermain PSG dalam pertandingan ini mencerminkan evolusi tim dari ketergantungan pada bintang individu menjadi kolektivitas yang solid dan efektif. Kemenangan ini juga menandai era baru bagi PSG sebagai kekuatan dominan di sepak bola Eropa.
Meraih Status Treble Winner
Paris Saint-Germain (PSG) membuat sejarah baru di Eropa dengan Meraih Status Treble Winner setelah menjuarai Liga Champions 2025. Kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan di Allianz Arena, Munich, Sabtu malam (31/5), menjadi puncak dari musim yang luar biasa bagi tim asal Paris ini.
Sebelum mengangkat trofi Liga Champions, PSG telah lebih dulu memastikan gelar juara Ligue 1 Prancis serta memenangkan Coupe de France. Dengan tiga gelar utama dalam satu musim, PSG resmi menyamai prestasi klub-klub elite seperti Manchester United, FC Barcelona, dan Bayern Munchen yang pernah meraih treble winner.
Musim ini, PSG tampil konsisten di semua lini. Di kompetisi domestik, mereka mendominasi Ligue 1 dengan selisih poin yang mencolok dari rival-rivalnya. Di Coupe de France, mereka menyingkirkan tim-tim kuat dengan permainan cepat dan solid. Namun puncak performa mereka benar-benar terlihat di Liga Champions.
Dalam laga final kontra Inter Milan, PSG tampil tanpa ampun. Lima gol dicetak oleh lima pemain berbeda: Achraf Hakimi, Désiré Doué (2 gol), Khvicha Kvaratskhelia, dan Senny Mayulu. Keberhasilan ini menunjukkan betapa meratanya kualitas skuad PSG musim ini. Mereka tak hanya mengandalkan satu bintang, tetapi mengedepankan kerja sama tim dan kedalaman skuad.
Pelatih Luis Enrique menjadi arsitek keberhasilan ini. Dengan filosofi permainan menyerang yang dinamis serta keberaniannya menurunkan banyak pemain muda, Enrique mampu menciptakan tim yang kuat secara teknis dan mental. Ia pun mempersembahkan treble ini sebagai momen emosional, terutama karena mengenang mendiang putrinya, Xana.
Kemenangan ini bukan hanya sejarah untuk PSG, tetapi juga momen pembuktian bahwa investasi jangka panjang dan strategi pengembangan pemain muda bisa menghasilkan pencapaian besar. PSG kini tidak hanya menjadi raja di Prancis, tetapi telah menancapkan kukunya sebagai salah satu klub elit Eropa yang sejati. Dengan treble winner ini, era baru PSG sebagai kekuatan dominan di Eropa pun resmi di mulai. Itulah tadi beberapa ulasan mengenai Paris Saint Germain.